Suratan Takdir Matematika
Sebuah kisah yang menarik dari status diatas. Muatan yang disampaikan hampir sama dengan catatan yang pernah ditulis oleh Mas Zulkaida Akbar (Mantan Presbem ITB, yang sekarang mengambil Ph.D di Florida University -pen). Didalam tulisannya digambarkan alam semesta ini begitu teratur mengikuti persamaan matematika. Seakan Tuhan telah memperhitungkan setiap detik gerakan-gerakannya.
“Para agamis memahami alam semesta dengan kitab suci sedangkan para ilmuwan memahami Tuhan dengan bagaimana persamaan-persamaan matematika yang bekerja padanya” Terangnya pada catatannya. *secara garis besar hampir sama namun untuk tulisan aslinya mungkin tidak seperti itu, karena saya lupa pada catatan mana Masnya nulis*
****
Saat membaca catatan Pak Simon ini, tiba-tiba teringat akan pelajaran yang saya benci dari SD hingga SMA. Yaps, Matematika. Namun entah kenapa Tuhan selalu memberi belas kasihnya dengan memberi nilai Matematika cukup bagus selama SD hingga SMA (jangan dibilang sombong ya? ). Mungkin Tuhan telah memberikan kodenya kepadaku dengan nilai tersebut sehingga Sialnya malah saya malah masuk jurusan hampir 80% adalah matematika. Ya, saya diterima di jurusan Teknik dengan predikat SANGAT BEJO.
Saat membaca catatan Pak Simon ini, tiba-tiba teringat akan pelajaran yang saya benci dari SD hingga SMA. Yaps, Matematika. Namun entah kenapa Tuhan selalu memberi belas kasihnya dengan memberi nilai Matematika cukup bagus selama SD hingga SMA (jangan dibilang sombong ya? ). Mungkin Tuhan telah memberikan kodenya kepadaku dengan nilai tersebut sehingga Sialnya malah saya malah masuk jurusan hampir 80% adalah matematika. Ya, saya diterima di jurusan Teknik dengan predikat SANGAT BEJO.
Sedikit Flashback.....
Teringat beberapa bulan sebelum ujian nasional untuk Sekolah Dasar. Saya mungkin untuk soal bagian mata pelajaran matematika sangat dodol. Tak disangka bak malaikat Mikail-Sang pembagi rezeki, datanglah Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah Sragen mitra dari SD saya bersekolah Sd Muhammadiyah Kutoarjo. Bak seorang motivator dia bilang “Matematika itu sama dengan matek matian. Ya itu terjadi jika kalian tidak tahu rumusnya. Namun akan mudah jika kalian mengetahui rumusnya ”. Pitutur Beliau pada wakti itu saya anggap sebagai sebuah mantra, bagi saya itu terus mengena. Saya jadi teringat perjuangan untuk menghafal volume tabung, “Dua Pi rumah-rumah + Pi Desvi Tinggi”. Mungkin bagi orang-orang di sekitar saya waktu dulu itu aneh, tapi bagi saya itu adalah mantra sakti untuk mengerjakan matematika (Alaaayyyy!!!).
Setelah bergulirnya waktu tepatnya pada SMP tetap saja matematika adalah hal yang sangat membosankan. Pernah ada isu untuk milih mata pelajaran, matematika akan saya coret paling awal untuk saya jadikan mata pelajaran jika benar-benar wacana tersebut terealisasi. Titik terendah saat itu adalah ketika pelajaran matematika bab Aljabar, dibuat strees lah saya, remedi merupakan hal biasa. Mantra sakti pada tingkatan SD seakan sudah tidak relevan lagi.
Waktu SMA pun tak berubah, ketika di kelas teman-teman sekelas pada getolnya mengerjakan latian soal di Diktat masing-masing. Saya dibilang oleh guru matematika sebagai pecinta kebersihan, bukan makna kebersihan secara harfiah namun merupakan sebuah sindiran halus karena Diktat saya yang kosong mlompong, bersih-sebersihnya. Tak seperti yang digambarkan dalam Lagu Harmoni milik Padi “....Kita terlahir bagai selembar kertas putih, Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai...”.
Saat SMA yang saya takuti hanya Alm. Pak Joko, guru matematika, dengan terpaksa nyonto teman agar Diktat saya penuh. Kalau untuk tanya pada waktu jam pelajaran (modus agar dikira belajar), saya hanya menebak nomor mana yang susah. Walhasil amanlah diri saya ini. Lanjut, Jika ada soal buktikan persamaan-persamaan logaritmik ini adalah eqivalen, dengan cepat saya nulis TERBUKTI! untuk perhitungannya tunggu belakangan saja hehehehe
:D.
Beruntungnya kelas 3 ada guru matematika yang cukup sabar, Bu Endang namanya. Tak henti-hentinya mempush saya agar mengerjakan matematika. Dengan penuh gelora batin, saya mengalah. Tetap mengerjakan tapi dengan setengah hati, dari 10 nomor paling hanya 4 yang saya kerjakan. Waktu SMA, saya lebih tertarik ke membaca casenya daripada mengerjakannya, pikir saya case ini bisa diselesaikan dengan persamaan itu sehingga belajar saya sudah cukup!!. Ternyata itu SALAH. Matematika perlu KEBIASAAN. Telat sadar membuat saya panik ketika akan Ujian Nasional. Dari kisi-kisi, bagian Trigonometri merupakan yang tersulit, sampai ujian nasional pun tetep belum bisa. Hanya undian berhadiah menggunakan pensil yang akan menyelamatkan saya, kalaupun itu Untung masih berpihak dengan saya.
Mindset belajar matematika cukup berubah ketika sudah masuk di kuliah. Kuliah teknik lagi, dimana matematika adalah menu wajib. Hal pertama yang membuat pencerahan adalah pada kuliah dasar telekomunikasi, tepatnya mengulik aturan perkalian sinus. Ternyata itu merupakan prinsip modulasi radio, ya radio yang biasa dipojokan rumah kita.
Semenjak dari hal kecil tersebut, matematika merupakan entitas yang menarik dalam khasanah ilmu pengetahuan saya. Setiap persamaan pasti mempunyai filosofi tersendiri. Dari bilangan kompleks yang mendasari prinsip kerja kebiaasan You Tube kita pada pagi hari, Lambang Integral merupakan awalan dari kata Sum, Persamaan Kepler yang menuliskan dengan indah bagaimana alam semesta ini bergerak maupun Logaritmik yang menawarkan kemudahannya untuk menghitung bilangan berskala JUMBO.
Namun dari semua itu hanya 2 yang membuat saya tercengang, yaitu Persamaan Fourier dan Maxwell. Fourier (baca: orang) yang membayangkan sebuah sinyal apapun di dunia ini merupakan gabungan antara Cosinus dan Sinus. Fourier yang secara brilian merupakan peletak dunia modern ini, hampir semua peristiwa terkait sinyal pasti bisa dijelaskan dengan Fourier. Ataupun Maxwell(baca:orang) bak seorang Avatar Aang yang menyatukan beberapa elemen persamaan-persamaan terdahulu terkait elektromagnetik, Sehingga tercipta 4 persamaan cantik untuk mengubah dunia. Berkat Fourier dan Maxwell*, dunia ini pun berubah seperti sekarang ini.
*Kalau belum tahu Maxweel? Dia adalah ilmuwan elektro yang dalam ranah Humaniora setara dengan Adam Smith ataupun Karl Marx.
Mengutip buku yang pernah saya baca “Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan berbagai persamaan untuk mengatur sedemikian rupa, manusia telah sedikit membuka tabir alam semesta dan menjelaskannya dalam sebuah persamaan-persamaan yang Tuhan sudah tuliskan, masih banyak persamaan-persamaan di dunia ini yang belum tersibak ”.
“Tuhan dengan sabar telah menunggu 6000 tahun untuk seorang manusia membaca persamaan-persamaan indah alam semesta yang dituliskan-Nya ” Johannes Kepler. Mungkin inilah Suratan Takdir yang Tuhan berikan kepadaku sebagai salah satu bekal untuk menapaki hidup ini, The Long and Winding Road. Karena yang dulu benci, malah menjadi Cinta. HATI-HATI kalau membenci seseorang ya?
Terima kasih kepada guru-guru yang sabar dari SD hingga SMA :D
****
Surabaya, 04 Maret 2018
*Sambil mendengarkan musik Black Sabbath dan Led Zeppelin
Credit = Ical
Komentar
Posting Komentar