Selamat Datang "Gula"
Sebuah cerita untuk pejuang diabetes dimanapun berada.
Masih ingat saya sempetnya ngakak-ngakak ketika menerima vonis terkena "Gula" sekitar 2,5 tahun lalu.
Kala itu, tiba-tiba tubuh memberikan sinyal keanehan secara tiba-tiba
"Kaki kesemutan dengan tiba-tiba dan tidak hilang. Haus yang sering terjadi. Tenggorokan meronta selalu ingin diguyur air terus menerus"
Dengan kondisi tersebut yang tiba-tiba dan membuat hidup saya menjadi tidak enak. Secara kebetulan, Saya ngide untuk tes gula sesaat di Laboratorium suatu rumah sakit.
Tanpa gusar dan masih ngekek-ngekek dengan diri sendiri, hasil lab keluar di tangan saya. Saya sorot bagian kolom gula dengan nilai 230.
Saya langsung syok sedikit tapi lanjut ngakak sambil berucap
"Memang lucu sekali hidup saya hahahaha" memang pada tahun-tahun tersebut saya sedang kacau hidupnya.
Lalu pikiran saya paling liar secara tiba-tiba keluar "Fix join club 27 seperti rockstar-rockstar"
Saya waktu itu punya pikiran bahwa penyakit seperti ini tidak bisa sembuh. Sebenarnya, saya tahu punya turunan diabetes, tapi tetap ngeyel terus.
Ditambah lagi waktu itu pandemi sedang parah di Indonesia. Walaupun secara finansial saya tidak terpengaruh, namun secara kehidupan sangat menyiksa. Walhasil, gaya hidup rockstar mulai menjangkit diri saya.
Kehidupan berlanjut seperti tidak ada apa-apa. Sesekali saya cari-cari info mengenai penyakit gula. Cara menangani, memanage makan, dan efek jangka panjangnya seperti apa.
Dari hasil pencarian tersebut, saya menemukan untuk memastikan adalah dengan mengecek nilai gula puasa dan Hba1c. Dari informasi yang saya tangkap untuk melakukan tes itu yaitu dengan berpuasa 8 jam sebelum waktu tes.
Esok harinya, saya berangkat ke Kimia Farma buat check. Pengecekan dilakukan secara standar dengan mengambil sampel darah dari pembuluh vena di tangan. Lalu perawat memasukkan ke botol sampel lab.
Setelah saya membayar ke kasir yang membuat terkaget karena tes seperti ini sangat mahal. Saya membayar sekitar 300 ribu untuk tes sesingkat ini.
Sorenya, hasil keluar dengan dikirimkan melalui WA ke nomor saya. Saya lihat hasilnya normal.
"Wah, tenan memang normal" ungkap saya dengan curiga.
Kenapa curiga, karena saya saat menerima hasil itu masih merasakan kesemutan tidak jelas. Tapi, ya sudahlah kalau memang gitu. Mungkin saya kecapekan saja, walaupun saya masih menyangkal karena kerjaan saya itu cuman duduk saja.
Sejam kemudian, ada WA masuk lagi ke nomor saya dari Kimia Farma dengan isi pesan sebagai berikut
"Maaf mas, tadi hasilnya salah tulis. Lampiran berikut yang benar"
Tanpa pikir panjang, langsung saya check hasilnya dan seperti ekspektasi saya
"Gula puasa = 125
Hba1c = 7.0"
"Jingan" reflek mulut saya
"Meh loro wae gek di PHP / mau sakit saja masih di PHP" lanjut saya
Kehidupan tetap harus berlanjut. Lalu saya mencoba trik-trik untuk menurunkan kadar gula saya dengan nama proyek
"Proyek Mengulur Kematian"
- Jalan kaki 3000 langkah setiap hari
Saya melakukan ini dengan berbagai macam kegiatan unik. Beli rokok jalan kaki, belanja sayur jalan kaki, jogging, ke ATM jalan kaki
- Makan banyak serat
Gara-gara harus makan serat, saya jadi sering memasak sendiri untuk makan. Dari menu nasi merah, kentang, ubi ungu. Dengan sayuran yang saya coba dengan teknik bleaching yang membuat menggugah selera
- Serba pahit
Jadi lebih menikmati minum kopi pahit. Kapal api tanpa gula itu enak kalau bisa bikinnya, bikin kopi V60/Japanese, Teh tanpa gula dan sebagainya.
Dengan kombinasi hidup seperti itu selama 4 bulan, saya bisa menurunkan gula menjadi 98 untuk gula puasa dan Hba1c ada di range 63.
Sebuah prestasi hebat!!!
"Proyek Mengulur Kematian" yang saya rancang sukses besar. Dengan pola hidup sehat, gula darah bisa turun sangat drastis. Suatu kunci yang saya yakini bahwa penyakit metabolisme bisa diperbaiki dengan mengubah hidup saja.
Kehidupan berjalan hingga setahun kemudian dari kesuksesan saya waktu itu. Tiba-tiba saya luka tidak sembuh-sembuh hingga basah. Saya hitung luka ini hampir 2,5 bulan tidak kering. Saat itu agak panik dan menyangkal karena gula saya dulu normal.
Lalu saya check lagi nilai gula saya yang hampir 7 bulan lupa saya manage. Dan ternyata nilai Hba1c kembali ke 7.0
"Sialan, tubuh saya mulai beradaptasi dengan kondisi ini"
Sedikit agak menyerah waktu itu hingga saya putuskan untuk konsultasi ke dokter dengan benar. Selama proses ini dugaan-dugaan saya yang saya pelajari ternyata benar. Tubuh bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini.
Saya disarankan meminum obat berjenis Metformin 2x sehari agar bisa menghambat penyerapan gula ke darah.
"Proyek Mengulur Kematian" saya lakukan dengan ketat. Setelah saya bertemu teman saya yang paham tentang Gizi. Dugaannya saya kecolongan karena meminum "seger-seger". Ternyata bukan hanya gula putih saja yang harus dihindari, gula buatan juga harus.
Setelah dari situ, saya sekarang jadi tahu untuk menakar gula-gula jahat yang ada di minuman kemasan. Sebelum membeli sesuatu, saya sering clingak-clinguk untuk menakar kandungan gulanya, karena informasi yang diberikan sering menjebak. Kadang nilai yang disampaikan hanya per takaran saji. Padahal satu botol kadang bisa untuk 3 takaran saji.
"Membaca Cermat adalah skill yang harus diterapkan"
Pungkasan, Dari diabetes yang saya terima ini, saya masih bisa ngekek-ngekek. Bukan saya takut mati muda atau sakit-sakitan. Saya hanya takut menjadi tokoh "Ajor Kawir" dalam Novel "Seperti Dendam, Rindu harus dibayar tuntas"
Ya, karena saya masih bujang hahahaha
Seperti kata Lemmy dedengkotnya Motorhead "Ketika kamu bertanya dengan kehidupan God Was Never On Your Side, tetaplah jalani kehidupan seperti speed lagunya Motorhead, trabas sana-sini. Born To Lose, Live To Win"
Diabetes memang tidak ada obatnya, namun cerita dari para pejuang mungkin bisa memberikan harapan untuk menikmati hidup lagi. Semoga teman-teman masih ada yang support.
"Selamat hari diabetes seluruh dunia"
Komentar
Posting Komentar