Like A Pelus
Pelus
Ketika
masih zaman sekolah dulu pasti Anda pernah mempelajari bagaimana makhluk hidup
beraktivitas? Dari makan hingga kawin misalnya?
Pernahkan
Anda mendengar cerita bagaimana pelus beraktivitas ketika mau kawin? Pelus saat
dewasa biasanya hidup di perairan-perairan sekitar sungai. Mereka hidup dalam bolongan-bolongan tanah yang mereka
gali. Mereka beraktivitas ketika malam hari, bahasa science-nya, nocturnal. (Persis
seperti saya kalau sedang tidak ada tanggungan di hari esoknya).
Kenapa saya tahu pelus
hewan nocturnal? Karena banyak pemancing sering ditemani lelembut ketika memancing
pelus. Kepo? Silahkan gabung grup mancing yang banyak bertebaran di facebook…
Ketika
birahi pelus meningkat, pelus akan berenang ke tempat awal mereka dilahirkan.
Dimana? Di lautan jauh yang terdalam. Pelus akan bermigrasi mengikuti insting mereka sebagai satu-satunya
tuntunan, untuk kembali ke tempat dimana membuka mata untuk pertama kalinya.
Melewati rute panjang nan penuh halangan. Terkadang juga dijaili oleh tangan kotor manusia seperti pembuatan bendungan yang
tanpa memikirkan nasib mereka. Mencampakkan begitu saja!!!
Setelah
sampai di lautan terdalam mereka melakukan ritual, berkembang biak. Melanjutkan
keberlangsungan bangsanya.
Begitu
si kecil-kecil imut telah beranjak dewasa. Mereka akan mengembara ke penjuru
sungai-sungai untuk melanjutkan hidupnya.
***
Manusia
Ketika
manusia lahir, mereka tidak akan tahu mereka akan dilahirkan dimana, derajat
keluarganya apa, ataupun kelaminnya apa. Itu merupakan sebuah takdir Tuhan.
Manusia hanya bisa mengiyakan. Tapi bukan berarti lepas tangan bukan? Kamu
harus bisa mengubahnya!!! Karena itu yang dinilai oleh Tuhan.
Manusia
bisa berusaha untuk mengubah hidupnya dengan berbagai cara. Biasanya mereka
akan pergi mengembara. Menjual masa mudanya yang nikmat, ditukar dengan
kegetiran menghadapi hidup sendiri. Dari pergi belajar ke belahan dunia lain
maupun bekerja di salah satu penjuru bumi. As
New Kid In Town
Mengembara
untuk mengerti apa arti ketika dirimu sendiri. Melewati sebuah masa ketika
tidak ada orang terdekat kita yang akan menolong saat kita kesusahan. Tidak ada
yang mempedulikan dirimu, selain dirimu sendiri.
Proses
berjalan tahap demi tahap hingga suatu saat kita akan menghargai sebuah
kemajemukan dan menepikan pandangan sebuah masyarakat homogen.
Ticking away the
moments that make up a dull day
Waktu
berjalan begitu cepat. Pencapaian-pencapaian dalam hidup sedikit demi sedikit
tercapai. Kita juga sudah bisa hidup harmonis dengan masyarakat yang pertama
kali kita anggap aneh.
Namun
dari semua itu, kita tetap akan merindukan tempat awal kita membuka mata.
Sebegitu jeleknya, tertinggal, tak dikenal oleh siapapun, dan apapun yang orang
lain katakan. Kita tetap akan mencintainya, karena kita tidak akan lupa, tempat
dimana pusar kita ditanam.
Maka,
seperti halnya pelus, manusia akan pulang ke tempat asal mereka. Seberapa
jauhnya, sedikitnya kesempatan. Mereka tetap akan meluangkannya. MUDIK!!!
Home, home again
I like to be here when I
can
When I come home cold
and tired
It’s good to warm my
bones beside the fire
Far away, across the
field
The tolling of the iron
bell
Calls the faithful to
their knees
To hear the softly
spoken magic spell
*diambil
dari lagu TIME ciptaan dari Pink Floyd
Kok Kenapa harus pelus?Kan
yang terkenal kan salmon? Karena kalau salmon hampir sebagian masyarakat
Indonesia belum pernah memakannya. Saya juga hehehehe….
Selamat
mudik bagi masyarakat dimanapun Anda berada. Banggalah telah menjadi PELUS
Surabaya, 10
Juni 2018
Komentar
Posting Komentar