1500-an Kilometer Part 1



“Dalam setiap perjalanan ke berbagai penjuru dunia, akan selalu ditemukan kejadian menarik sebagai bahan Anda untuk belajar”
Surabaya – Jakarta
Intro
Teringat waktu kecil, saya paling ogah-ogahan kalau diajak untuk berpergian, bahkan hanya sebatas 60 km atau dari daerah saya, Kutoarjo ke Yogyakarta. Dalam benak saya, ketika berpergian adalah sangat membosankan, waktu berputar begitu malasnya. Dan tidur adalah obat yang mujarab untuk mempercepat perputaran roda waktu.
Tempaan waktu mengubah pandangan saya dalam melakukan setiap perjalanan. Dalam perjalanan saya selalu berposisi sebagai pengamat. Mengamati aktivitas acak tiap Individu dalam kendaraan ataupun di luar kendaraan.
Momen acak tiap Individu terkadang membuat geli, sedih maupun bahagia. Bahkan bisa menimbulkan ide-ide pribadi untuk diri saya sendiri.
Verse                        
Selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, saya selalu menyempatkan pada tiap semester untuk menggelandang (istilah yang saya pakai untuk mengacu ke perjalanan). Entah perjalanan dalam yang produktif semisal lomba, ataupun cuman sekedar iseng, misal nonton konser.
9 Maret 2018 ada kabar diterimanya saya untuk mengikuti serangkaian sertifikasi di Jakarta. Jakarta, Ibu Kota Republik Tercinta ini. Provinsi terpadat yang ada Indonesia, berkorelasi dengan macet pula.
Perjalanan ke barat dimulai pada tanggal 12 Maret 2018 pukul 15.30 WIB. Oh iya karena perjalanan ini cukup pas-pasan jadi saya hanya berbekal tas carier (hanya berisi baju, tak ada makanan). Perjalanan dengan kereta kali ini menempuh jarak kira-kira 700 KM dan hanya ditemani sebotol air minum serta sisa makanan di perut saat pagi.

The Long Winding Road 
Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pd/16

Gumarang nama keretanya, kereta jarak jauh dengan tiga variasi kelas pada gerbongnya. Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi. Bagaikan sebuah masyarakat dalam negara yang tersusun dari beberapa kelas. Gerbong kereta juga mewakili kelas-kelas tersebut.


Eksektutif dengan kenyamanannya namun interaksi antar individu sangat jarang. Bisnis setingkat lebih nyaman dari ekonomi dan interaksi masih terjalin. Yang terakhir ekonomi, bangku yang suk-sukan, slonjor sangat susah namun interaksi antar penumpang sangat meriah. Saling bertanya, menyapa, kadang bercerita, bahkan bisa saja ditawari makananan (Sebagai orang jawa saya biasanya menolak, tapi sebenarnya sangat mau).
Ada hal yang membuat saya menarik pada perjalanan kali ini. Pemandangan sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan 3 orang anak. Tampaknya keluarga muda, terlihat dari Sang Ayah yang berumur sekitar 30an, Ibu tampak tak terpaut begitu jauh dan 3 anak yang berumur 3 -  5 tahun. Saya cukup salut dengan anak-anak mereka. Di Usianya mereka sudah hafal beberapa surat pada juz 30 yang cukup panjang. Kalau aku? Jelas gak hafal lah.
Peranan orang tua mereka sangat vital. Mereka mendidik dengan wahyu pertama untuk Nabi Muhammad. “BACALAH!!!”. Perintah yang sekarang sering dilupakan oleh setiap individu. Sekarang ini, individu lebih banyak bergaul dengan media sosial yang ujung-ujungnya ke hoax juga. Membaca memerankan peran terbaiknya disini, sebagai sarana pemutus mata rantai berita yang absub dan biasanya enggak jelas serta sok ilmiah tersebut. 
 Ngomong-ngomong dengan membaca, ada cerita menarik lagi. Cerita ditokohi oleh Frank Lampard, mantan pemain Chelsea dan Timnas  Inggris. Frank Lampard selalu menemani keluarga kecilnya saat sebelum tidur untuk membaca buku apapun selama 10 menit. 10 menit waktu yang singkat lebih dari waktu bokermu, makanmu, chattinganmu, maupun maenan Burung-mu??? *Ups. Jangan anggap remeh 10 menit tersebut, bila dikumpulkan selama 30 hari menjadi 300 menit (Situ takjub enggak?, saya aja takjub).
Foto Soccer Memes.
Foto: Facebook Fans "Soccer Memes"
Saya mungkin tidak akan terpikirkan tentang tulisan ini jika tidak melihat keluarga tadi. Karena mereka sebagai muhassab saya untuk menghubungkan memori-memori yang berserakan di kepala.
Pernah ada orang bilang begini “Ketika ingin melihat Indonesia yang sebenarnya. Cobalah naik kereta ekonomi. Walaupun pegal, tapi menyenangkan”. Mungkin dari setiap perjalanan Anda akan timbul ide-ide lain ketika melihat ke majemukan masyarakat.
Surabaya, 06 April 2018
  
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suratan Takdir Matematika

Like A Pelus

Wanita