Everybody have their Passion
Catatan
– catatan di dinding
Menyebar
secara stokastik
Melompat
ke kanan kiri
Tanda
Juang yang perih
Di suatu kamar yang sepi,
berjajar juga tipe kamar sama dengan keadaan yang sama pula. Tampak dari luar
tak ada orang di dalam. Benar saja, ketika saya beranikan membuka pintunya, tak ada seorang pun
didalam.
Hanya terlihat corat-coret di
dinding disertai buku-buku tentang penelitian berserakan. Terlihat perjuangan
yang gigih untuk menuntaskan kewajibannya. Di dalam kamarnya tampak rak-rak
sederhana yang menampung buku-buku dengan kandungan ilmu tinggi. Metafora dari
Orang bijak berbalut kerendahan.
Saya merebahkan badan diantara
serakan perjuangan. Seperti Bhisma yang menginginkan istirahat di tengah padang
Kurusetra. Aroma yang dirasakan Bhisma, saya rasakan pula.
Tampak sembrono, namun saya
sudah izin pemilik kamar tersebut. Dia adalah teman saya. Saya izin nebeng lagi untuk kesekian kalinya.
Tak lama berselang teman kedua
teman saya datang. Mengobrol pada umumnya seperti teman lama yang jarang
bertemu. Menanyakan kabar, berbasa-basi sekedarnya.
Cara
Pandang
Celetuk saya pada seorang dari
keduanya “Sangar tenan koe le garap skripsi. Niat tenan”
“Pie neh karang cah kuliahan,
nek pas kuliah akhir-akhir ngene iki akeh drama yo. Seko dosen sing ngomong
mosok mahasiswa tok sing oleh ilang, dosen enggak boleh?” Sambungnya
Tawa menyertai kita semua.
Memang kalau dipikir, kuliah semester akhir lebih banyak dramanya daripada
kuliahnya. Mungkinkah ini yang dinamakan pembelajaran sosial sesungguhnya?
Pelajaran untuk mengambil sikap dari entintas sekitar kita yang bereaksi dengan
kita?
“Skripsimu angel yo sal” Tanya
salah satu dari keduanya.
Obrolan kami berlanjut dengan
topik yang hampir sama. Bagaimana cara memandang skripsi dari dua jenis orang
dengan sifat berbeda, pandangan eksak diwakili oleh saya, sedangkan pandangan
soshum diwakili oleh kedua teman saya.
Anak
Eksak
Pandangan saya adalah skripsi
anak sosial humaniora sangat menyusahkan. Untuk mengambil suatu judul saja harus
menemukan permasalahan, wajib didukung dengan data pula. Wawancara misalnya, saya
pasti sudah strees dibuatnya. (Lebih baik saya menghitung panjang daripada
begitu, sok-sok an :D)
Padahal skripsi saya datang
sendirinya. Hanya bermodalkan masalah yang ada, saya beranikan maju ke dosen
pembimbing. Gayung pun bersambut, dosen pembimbing setuju dengan masalah dan interest saya. Judul pun datang sendiri.
Pengerjaan skripsi pun hanya
seperi game. Tak perlu blusukan. Hanya bermodal matematika
saja, skripsi pun kelar.
Anak
Sosial
Anak sosial melihat skripsi anak teknik itu
susah. Banyak hitungannya, rumus yang ribet, dari integral, turunan, dan
trigonometri. Pikirnya, SMA bertemu seperti itu saja susah apalagi pas kuliah.
Pasti susahnya minta ampun. Bisa dibuat botak olehnya. Lebih baik kami, skripsi
tanpa hitungan, tinggal tulis saja tanpa menggunakan kalkulator.
Anak sosial cenderung melihat
anak-anak eksak itu orang yang pintar-pintar. Mindset kejadian-kejadian yang dibicarakan orang tertanam di alam
bawah sadarnya, semisal anak teknik lulus pasti telat karena susah, IPK anak
teknik jelek-jelek dan kuliah teknik hanya bisa ditempuh oleh anak pintar saat
SMA. Cara berpikir tersebut secara tidak langsung telah mengkerdilkan pikir dan
dirinya sendiri.
Everybody
have their passion
Berawal dengan cara pandang
yang demikian, saya mempunyai cara pandang baru. Setiap orang telah dibekali
oleh Tuhan dengan kemampuan masing-masing. Anak eksak mana mungkin bisa
mengerjakan skripsi anak sosial yang cenderung bertele-tele. Sedangkan anak
sosial mana mungkin mengerjakan skripsi anak eksak yang ribet.
Salah satu teman saya pernah
berujar “Hidup pada awalnya indah. Namun,
Sejak kita mulai membandingkan secara terus menerus, kita akan menuju kekerdilan”
Itulah hidup, semakin berumur
secara tidak langsung kita telah dispesialisasikan.
Ditarik secara garis panjang, ini yang membuat kita untuk saling membantu,
saling berkumpul, dan saling berinteraksi.
Pada akhirnya saya sadar. Saya
bukanlah Avatar yang bisa apa saja. Saya, ya hanya saya.
When I find myself in times of trouble Mother Mary comes to me Speaking words of wisdom "Let it be"
When I find myself in times of trouble Mother Mary comes to me Speaking words of wisdom "Let it be"
Komentar
Posting Komentar