Looping


Arah menyambung tali silaturahmi ke dunia modern menjadi kurang beresensi. Pengaruh “Gadget” perlahan menggerus makna silaturahmi sendiri.
Mendekati peringatan hari raya, broadcast pesan-pesan ucapan hari raya silih berganti masuk menderingkan penanda pesan Whatsapp perangkat kita. Mulai dari grup-grup teman semasa SD, SMP, hingga SMA. Tak sedikit pula yang mengirimkan direct message secara perseorangan ke gadget kita. (Mungkin memanfaatkan momen untuk kelanjutan modus di kemudian hari :D)
Yang patut disayangkan adalah semua pesan yang masuk memiliki pola yang SAMA. Hanya berbeda diawal, ditengah, ataupun diakhir. Berbeda hanya pada kata pengganti subjek.
Pesan-pesan tersebut datang dengan deretan kata-kata terangkai panjang dengan indah. Namun di mata saya tak ubahnya sebagai batu, Keras, Padat dan tak bernyawa. Semisal jika digunakan untuk menimpuk dengan tenaga sebesar apapun, tak akan dapat mengubah batu lainnya menjadi pecahan kecil. Malah, saling memantul. Seperti dua kelereng ketika beradu.
Pesan-pesan tersebut ditulis tanpa menggunakan perasaan apapun. Perasaan yang menulis untuk yang ditulis. Perasaan yang meminta untuk yang dimintakan. Pesan tersebut MATI, tak punya nyawa untuk HIDUP. Tak ada yang menunjukkan satu diksi pun yang murni dari perasaan, menunjukkan kerendahan hati yang meminta kepada yang diminta.
Model menyambung silaturahmi menggunakan gadget akan menghilangkan fenomena-fenomena kecil yang mengiringi perjumpaan secara langsung. Terkadang menggelikan, menyenangkan, bahkan sedikit bisa dijadikan contoh pembelajaran hidup.
Kalau kamu tahu, Silaturahmi adalah proses LOOPING yang mungkin saja kelak menjadi LOVING
Koleksi Pribadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suratan Takdir Matematika

Like A Pelus

Wanita