Cita-Citaku menjadi Harvest Moon




Sumber : Google.com

Sekitaran 2 bulan lalu diantara jeda masa pengembaraan menuntut ilmu, saya sejenak pulang kampung. Menikmati feel hidup yang telah hilang termakan waktu di perantauan.
Selama di kampung halaman, saya belajar susahnya jadi pengangguran. Mau membeli uang untuk merokok aja harus direwangi  menjadi penjual “jasa mengantri” untuk pembelian tiket kereta api lokal. Memanfaatkan lokasi strategis tempat tinggal yang dekat dengan fasilitas umum. Walaupun hanya relasi teman-teman saya yang membeli dikarenakan mungkin melas melihat temannya mencari uang :D.
Oh iya, mungkin kelak kalau saya menjadi orang yang sedikit berada dan mendapatkan banyak berita miring tentang pencitraan. Tulisan ini bisa menjadi sedikit bukti masa muda saya yang senang mengamalkan “Lupus Homo homini est”-menjadi manusia yang berhakikat
Setelah hiruk pikuk Cash On Delivery (COD), saya sempatkan untuk mampir di warung tenda. Untuk sekedar mendengar ada berita apa di sekitar saya hari ini? Pernah suatu kali saat ribut-ributnya penerimaan siswa baru dengan sistem zonasi. Orang-orang disana ikut membahas, tidak hanya membahas pandangan kebingungan seorang wali murid yang berpendidikan menengah ke bawah namun ada juga pandangan seorang guru yang memberikan secercah petunjuk.
“Terkadang sebuah warung kecil sederhana tanpa dekorasi di pojok jalan lebih berfaedah obrolannya, daripada café-café kekinian yang menyajikan dekorasi menawan, namun ironisnya hanya dijadikan sarana orang-orang untuk panjat sosial.”
Mengamati kebingungan orang – orang berpendidikan menengah ke bawah saya jadi terheran. Apakah orang-orang yang menjadi decision maker tidak pernah memperhatikan kebingungan mereka, ketika tiap ganti menteri ganti aturan? Atau memang orang-orang Indonesia itu gumunan dengan sistem pendidikan luar negeri, sehingga tiap ada salah satu faktor yang menarik langsung ganti aturan, tanpa mengindahkan faktor lain, semisal tingkat pendidikan golongan dewasa orang sana?
Di suatu waktu, pernah ada seseorang yang bercerita agak serius mengenai tentang bertani. Saya agak lupa namanya, kalau tidak Kasno ya kalau tidak Kasirun. Agar lebih mudah panggil saja Pak Tani. Dia tinggal di sebelah selatan kota. Lumayan jauh kalau ditempuh dengan sepeda.
Pak Tani bercerita “Saya ini petani mas.Semisal orang tua saya dulu mampu menyekolahkan saya sampai tinggi, saya lebih memilih untuk susah bersekolah daripada bertani”.
” Hidup jadi petani itu susah mas. Maka dari itu anak saya tidak akan saya sarankan menjadi petani” Sambungnya . Lebih baik berpetak-petak sawah, saya ubah menjadi uang untuk menyekolahkan anak saya.
“Minimal anak saya bisa masuk STAN saja sudah bersyukur. Dari dulu kaum seperti saya ini (petani) hanya dijadikan retorika para pemimpin untuk mencari legitimasi kekuasaan mas"  Bapak tersebut berujar dengan raut muka berharap,
Orang-orang di daerah saya rata-rata pemudanya jarang yang bertani. Mereka lebih berharap anak-anaknya merantau ke kota. Harapan mereka adalah kesejahteraan finansialnya akan lebih terangkat daripada jika hanya berdiam diri duduk di kampung halaman sambil bertani.
“Jadi rata-rata petani di daerah kami ya bau tanah mas. Bukan bau tanah dalam arti sebenarnya, tapi bau tanah dalam arti bahwa umur para petani kami sudah tua-tua” tambahnya sambil berkelakar.
Saya hanya membatin “Oh ini yang kemarin lagi ramai di timeline media sosial tentang regenarasi petani Indonesia yang menurun”
Hasil gambar untuk petani

Obrolan kami berlanjut bersama kopi yang mengepulkan asap.
Jika petani (buruh tani) tidak memiliki petak sawah yang cukup luas, pendapatan mereka hampir-hampir mepet untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Pak Kas menggambarkan dari sekitar 25 ubin sawah yang digarap, produksi gabah normalnya mencapai 500 Kg. Dari proses gabah menjadi beras itu berat kira-kira menyusut menjadi ¾ berat total awal.
Kita sekalian pasti mengetahui bahwa ketika panen raya terjadi harga gabah akan tiba-tiba anjlok dengan otomatis mengikuti hukum permintaan “Semakin banyak komoditas harga akan cenderung turun”. Dari harga per-kilogram yang awalnya dari Rp 9000 sekian bisa anjlok menjadi Rp 7000 sekian.
Petani tidak mungkin bisa memanfaatkan peluang untuk menanam padi ketika harga naik. Perlu diketahui, penyeragaman penanaman dalam satu daerah bisa mengurangi akibat gagal panen. Distribusi penyerangan hama terhadap tanaman akan lebih merata. Hama tidak akan berfokus pada salah satu daerah tanaman berbulir saja. Beliau mencontohkan ketika menanam beras ketan saja harus disamakan dengan masa panen tanaman lainnya.
Ongkos untuk pra produksi dalam dunia bertani juga harus dihitung. Dalam pertanian modern, membajak sawah sudah dilakukan dengan traktor. Namun tingkat cakupan traktor pada sawah hanya di areal tengah, tidak bisa menjangkau pojokan dari sebuah petak sawah. Petani akan menggarap sendiri dengan mencangkul secara manual di setiap pojok-pojok sawah. Ongkos yang dikeluarkan petani pun jadi bertambah. Setelah itu, pengeluaran juga bertambah dengan pembelian aneka pupuk, (Beliau tidak menyampaikan secara jelas mengenai harga pupuk)
***
Disisi lain pada daerah lain panen raya hampir tiba sekitar 1 bulan lagi. Bagi Pak Kus tidak yang dikerjakan selain berdoa dengan harap cemas “Semoga tidak terjadi apa-apa selama sebulan ke depan”. Pak Kus telah melewati masa tanam, sekarang adalah masa-masanya menunggu si padi bisa dipanen.
Kehidupan Pak Kus hanya seputar madang, ngopi, ngrokok, dan ngaji. Berhubung dia sekarang ini telah mempunyai beberapa ekor kambing, jadi ada sedikit kegiatan lain untuk mengisi waktunya, ngarit (mencari rumput untuk pakan ternakya). Itung-itung kambing tersebut sebagai tabungan ketika ada kebutuhan mendesak.
Selama menunggu masa panen, Pak Kus hanya mengandalkan uang tabungan untuk memenuhi kehidupan ngebul dapurnya. Semisal terpaksa tidak ada uang, dia akan hutang kepada tetangganya dengan jaminan akan dibayar ketika panen raya tiba.
Kehidupan berat ini akan berlangsung hingga masa panen tiba. Namun akan bertambah berat jika ada undangan acara perkawinan. Kultural budaya kita, khususnya di Jawa, jika ada undangan hajatan pasti kita akan menyumbang untuk si penyelenggara kawinan. Lumrahnya bentuk sumbangan dalam bentuk uang. Bagi Pak Kus hal seperti ini membikin pusing, sudah tidak ada uang, ada undangan kawinan lagi.
Jadi dalam budaya masyarakat pedesaan ketika ada orang kawin, mereka menyumbang dengan kebutuhan pokok, semisal beras sebagai pengganti uang.
***
Musim panen telah tiba. Suka cita petani untuk menyambut masa ini penuh gairah. Petani berangkat dengan langkah kaki saling mengejar cepat dan semangat menuju sawah. Melihat sekitar banyak padi berbulir banyak, sudah menyenangkan hatinya.
Hasil gambar untuk panen raya
Mereka dengan semangat memanen padi tersebut. Dimasukkan penggillingan yang hanya dibayar dengan persen dari total gabah yang mereka panen. Mungkin sekitar 5% nya saja. Belum lagi ongkos untuk menggiling gabah tersebut menjadi beras yang bersih. Keluar uang lagi mereka untuk ongkos produksi.
Bayang-bayang akibat hukum permintaan akhirnya terbukti. Harga beras benar – benar tidak sesuai ekspektasi mereka. Dilema sebenarnya ada di hati mereka tapi Karena kebutuhan untuk membayar utang-utang selama menunggu masa panen,,akhirnya mereka rela menjual dengan harga seperti itu.
Bayang-bayang akan membeli ini itu hanya tinggal bayangan.
***
Lingkaran seperti ini akan terus berlangsung selama bertahun-tahun jika tidak ada orang-orang yang mempunyai wewenang untuk mengubah sistem pandangan bahwa petani bukan hanya sebagai komoditas. Rantai distribusi yang merugikan petani harus sesegera diubah.
Jika tidak ada perubahan apapun dalam kebijakan, bukan tidak mungkin di masa depan mindset anak-anak muda tentang petani adalah pekerjaan yang terpinggirkan. Khususnya citra Indonesia sebagai negara agraris akan punah.
Saya jadi teringat jasa-jasa petani dari dahulu sangat luar biasa. Dalam buku Petualangan Ibnu Battuta “ Daerah pertanian yang subur selalu ditarik pajak yang tinggi untuk menebalkan dompet para aristokrat setempat” . Sungguh besar jasanya untuk memelihara kelangsungan hidup para tikus.
Dulu waktu usia Sekolah Dasar, saya sering memainkan game Harvest Moon. Game itu bercerita tentang seorang anak muda yang pulang ke desa untuk menghidupkan lahan pertanian milik kakeknya. Senangnya lagi, untuk seukuran petani pada game itu, bisa memperistri kembang desa setempat (Jarang lho petani punya istri cantik, biasanya pasti kalah dengan yang berseragam). Sungguh nikmat hidup sebagai petani pada game itu, sehingga saya pernah bercita-cita menjadi seorang tokoh utama dalam game itu.
Kondisi real telah mengubah pandangan saya. Pandangan saya bukan lagi menjadi seorang petani, namun memperistri seorang petani.
“Loh kok petani, nggak salah?” tanya seorang teman
“Loh kamu yang salah”, bela saya. Petani sekarang kan cantik-cantik. Lihat saja para lulusan fakultas pertanian. Mereka itu tetap aja petani, namun petani berdasi. Mereka cantik-cantik lho, wong kerjaan tiap harinya aja di Bank hehehehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suratan Takdir Matematika

Like A Pelus

Wanita