Obituari Seorang Mahasiswa
Di tengah keriuhan orang-orang
berlalu-lalang merayakan wisudanya. Mereka melakukan kegiatan seperti berfoto
ria, saling tegur sapa, tertawa lepas sambil mengingat masa suramnya
mengerjakan tugas akhir, atau berjingkrak-jingkrak maupun melakukan kegiatan senang-senang
seperti pada umumnya.
Terlepas dari pandangan-pandangan
pada umumnya dalam merayakan kegiatan wisuda, kali ini saya akan melihat dengan
persepsi lain acara wisudaan. Dalam pandangan saya, sebuah acara wisuda seperti
sebuah kegiatan funeral (acara kematian) yang dilaksanakan secara agung dan
khidmat diiringi music bertema gelap.
Tulisan pada paragraf-paragraf
selanjutnya adalah obituari saya sendiri setelah melepaskan status saya dari
mahasiswa menjadi budak korporat.
Menjadi mahasiswa bagi saya merupakan hal yang tak terduga sebelumnya. Tak
pernah terpikirkan untuk kalangan masyarakat seperti saya yang tinggal di
Kutoarjo bisa menempuh pendidikan tinggi di salah satu kampus terbaik yang
dimiliki negara ini.
Dunia kampus menurut saya adalah
dunia yang sangat majemuk di dalam masa hidup saya, disini Anda akan banyak
menemukan berbagai hal pemikiran-pemikiran yang begitu banyak ragamnya. Dari
pemikiran kiri hingga kanan atau dari agamis hingga ateis.
Buku-buku yang menyokong warna
ideologis tertentu juga marak beredar di kalangan para mahasiswa. Anda bisa
memilih secara bebas buku-buku yang warna ideologinya ingin And abaca. Dunia
kampus sebagai dunia intelektual tidak membatasi kebebasan pemikiran-pemikiran
setiap individu merdeka. Menurut saya, pemikiran-pemikiran tiap individu
merupakan sebuah khazanah intelektualitas yang harus dijaga. Teringat perkataan
Prof. Daniel M.Rosyid yang saya baca di koran lokal Jawa Timur “Jika
kampus-kampus mengekang kebebasan berpikir yang ada, maka sesungguhnya kampus
kehilangan esensi intelektual. Yang ada hanyalah kampus sebagai tempat yang
subur untuk memupuk kedunguan ”
Di dunia kampus, setiap insan
dilatih untuk berpikir secara terstruktur. Perbedaan pendapat dalam berdiskusi
adalah suatu kewajaran dengan syarat disokong oleh argumentasi yang masuk akal.
Nilai-nilai yang ditanamkan dari berpikir agar nanti ke depannya mereka dapat
menjadi katalis perubahan peradaban negara.
Seperti sebuah lirik lagu hymne
almamater saya “Belajar beramal agar bermaslahat berguna bagi nusa dan bangsa”
Selain hal-hal serius yang saya tulis dalam beberapa paragraf sebelumnya,
menjadi mahasiswa ternyata sangat-sangat menyenangkan
1. Bertemu orang-orang hebat di
negeri ini
Suatu waktu di tahun 2014, kala itu
saat zaman ospek berlangsung. Tiba-tiba ada hari di luar jadwal yang telah
disampaikan sebelumnya, mahasiswa disuruh berkumpul sangat pagi di salah gedung
jurusan. Ternyata ada sebuah acara penyambutan mahasiswa baru yang cukup
spesial oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden SBY. Pada
kesempatan kali itu, hal yang paling teringat oleh saya sampai sekarang adalah
saya dapat bertegur sapa dengan Beliau
M = Menteri ; S = Saya
M : Asal mana mas?
S : Purworejo Pak
M : Daerah mana itu?
S : Kulonne Jogja Pak
Pada kesempatan lainnya, saya juga
dapat sharing ilmu dari orang-orang hebat lainnya. Misal Sri Mulyani (Menteri
Keuangan), Susi Pudjiastuti (Menteri Perikanan dan Kelautan), Prof. Josaphat
Tetuko (Ahli Radar Indonesia), Prof. Lighart (Ahli Radar Kerajaan Belanda),
Prof. Warsito Purwo Taruno (Penemu helm pembunuh kanker), Tri Risma (Walikota
Surabaya) dan beberapa orang lainnya.
2. Mencari makan gratis
Mahasiswa identik dengan hidup
hemat, pasalnya mereka biasanya merantau jauh dari daerah asalnya dan hanya
memiliki uang pas-pasan. Sehingga lumrah bila ada anekdot seperti ini “Dari
dahulu permasalahan mahasiswa selalu sama, dilema antara membayar kost atau
membeli makan”
Dalam beberapa kesempatan, di
kampus selalu terdapat seminar-seminar gratis seperti promosi doctoral mahasiswa
S-3. Banyak mahasiswa datang ke sana, tapi bukan untuk melihat sidangnya.
Mereka hanya butuh makan siangnya saja. Kadang juga ada mahasiswa yang tidak
mengikuti sidangnya tapi mengikuti makannya saja. Banyak!!!
3. Diskonan Buku
Beberapa toko buku menawarkan
diskonan pembelian buku plus penambahan sampul. Mahasiswa yang sangat antusias mencari
buku untuk menunjang perkuliahannya, mencari buku aneh-aneh pasti gercep
sekali untuk urusan seperti ini. Bahkan ada juga yang berpikiran untuk membuat
laporan kehilangan sehingga dapat memiliki KTM dua. Karena nantinya KTM akan
dikembalikan saat penanda tangan ijazah.
4. Memegang Alat-Alat Keren
Banyak alat-alat keren baik dari
segi fungsi maupun harga yang tak masuk akal yang bebas Anda pakai. Tentang
alat yang tak masuk akal, saya menemui sebuah komputer dengan software khusus
untuk menyelidiki tentang elektromagnetik. Kamu mau tau harganya barang
tersebut? Ya kira-kira seperti membeli Mobil Mitsubishi Xpander 7 unit. Dan
saya selama satu semester selalu memegang barang yang seperti 7 mobil tersebut.
5. Mencari Sertifikasi Gratis
Selain kuliah-kuliah di kelas yang
terkadang jelas dan tidak jelas (Banyak yang enggak jelasnya), mahasiswa
dituntut juga untuk mengembangkan softskillnya dalam keilmuan mereka. Salah
satunya adalah sertifikasi. Berhubung di era Presiden Jokowi banyak sertifikasi
diadakan dengan gratis. Mahasiswa berduyun-duyun mencari kegiatan tersebut.
Tujuan sebenarnya dari mereka mengikuti kegiatan tersebut bukanlah mencari
ilmunya, namun lebih banyak untuk mencari uang tunjangan, tidur di hotel mewah,
dan tentunya bolos kuliah.
6. Menulis bisa mendapatkan uang
Banyak lomba-lomba yang diadakan
oleh kampus dari pelosok negeri ini seperti LKTI, Konferensi, Menulis Essai dan
lainnya. Hadiah-hadiah yang ditawarkan dari perlombaan tersebut cukup
menggiurkan. Saya pernah mengikuti beberapa kali, dan itu memang membuat dompet
saya jadi cukup tebal. Namun ada teman saya yang lebih tebal lagi, wong dia
tiap minggu pasti mengikuti lomba seperti ini dan pasti mendapatkan juara
terus.
7. Mahasiswa tidak bisa disalahkan
Poin ini adalah poin yang paling
saya ingat. Itu karena salah satu Profesor saya (kemudian jadi pembimbing)
pernah berujar “Ngapain lulus cepat-cepat, jadi mahasiswa itu enak. Kalian bisa
belajar tanpa takut salah. Kalau status mahasiswa kalian lepas, kalian semua
sudah dianggap kompeten”
Kalau ditanya orang kenapa lulus
telat,saya paling sering ngeles dengan argumentasi Profesor saya. Padahal yang
sebenarnya saya lulus telat karena memang saya kuliah sering mendapatkan nilai
seperti chord pada lagu B, C, D, D, E. Lagu akan indah jika chordnya beragam,
gak mungkin to dari intro sampai penutup chord A terus.
8. Akses Internet dan Jurnal
berbayar Grade A
Ini yang membuat saya betah di
kampus. Akses internet yang sangat cepat, bisa download film kualitas 1080 P
hanya beberapa menit. Apalagi ditunjang dengan akses download jurnal yang
setara dengan 10 USD. Bagian ini yang membuat saya paling gelo, saya tahunya
ketika tahun-tahun akhir. Setelah saya tahu, saya sangat bernafsu mengunduhnya.
5 Jurnal dalam sehari. Membayangkannya saja saya terlihat kaya. Bayangkan
jurnal-jurnal tersebut tersimpan rapi di folder Anda dengan per jurnal senilai
Rp 140.000,00.
9. Tidur Lab
Bagi saya yang tidak bisa menyewa
kamar kost dengan fasilitas AC. Tidur di Lab adalah suatu solusi cerdas untuk
tidur nyaman dalam menghadapi panasnya kota Surabaya. Laboratorium bagi saya
layaknya sebuah apartermen seperti milik Gunawangsa Grup ataupun Pakuwon Grup.
Sangat-sangatlah nyaman, walaupun isunya sering banyak dhedemit yang mengganggu
mahasiswa disana. Bagi saya Dhedemit tidaklah menciutkan nyali saya ketimbang
harus mandi keringat menghadapi panasnya Surabaya.
Mengapa kamu harus bangga jadi
mahasiswa!!!
Dari beberapa cerita yang saya
utarakan pada paragraf-paragraf sebelumnya. Nilai lebih mahasiswa bukan hanya
dari fasilitas-fasilitas yang telah diberikan. Yang sebenarnya adalah yang
membuat mahasiswa mempunyai nilai lebih adalah sebagai symbol dari supremasi
masyarakat sipil.
Masyarakat telah menaruh
harapan-harapan yang sangat lebih pada seorang mahasiswa. Pasalnya hanya
beberapa dari warga negara Indonesia yang dapat mencicipi bangku perkuliahan.
Kalau tidak salah angka partisipasinya hanya 10% dari jumlah penduduk.
Harapan serta pandangan seorang
masyarakat pada seorang mahasiwa adalah sebagai suatu tatanan kelas masyarakat
intelektual yang dapat menyelesaikan berbagai masalah dengan pendekatan
intelektualnya.
Banyak mahasiswa sering bertanya
“Apakah sebelumnya kita pernah belajar menyelesaikan masalah? Bukannya kuliah
hanya menghitung atau membaca saja?” Pernah!!! Hanya kita melupakannya saja.
Saya pernah dinasehati oleh dosen pembimbing saya, kalau tidak salah Beliau
pernah berbicara seperti ini “Mas, sebenarnya esensi kalian mengerjakan tugas
akhir bukan kamu membuat antenna ini dengan bermacam-macam bentuk seperti ini,
mungkin dalam beberapa tahun ke depan sampeyan akan lupa cara mengerjakan hal
seperti ini. Yang sebenarnya adalah Tugas akhir sebagai sarana pembelajaran
bagaimana sampeyan menyelesaikan masalah-masalah kelak di kehidupan
bermasyarakat”
Pola berpikir terstruktur dalam
menyelesaikan masalah dari Latar Belakang > Teori > Experiment >
Penarikan Kesimpulan. Itulah pendekatan pola pikir dalam mengerjakan Tugas
Akhir yang sering kita lupakan karena berfokus pada hasil.
Jadi di masa depan negara Indonesia ini diharapkan tidak ada beberapa
manusia yang telah bersekolah tinggi (hingga jenjang pasca sarjana pula) masih
berujar “Bencana besar di negara ini diakibatkan oleh rezim, yanmg
semena-mena”. Kemudian salah satu orang yang tidak bersekolah menjawab “Mending
pendidikan kamu buat aku saja, Otak hanya buat pajangan” (Drama ini saya lihat
di timeline twitter beberapa waktu lalu).
Pemikiran dalam argument-argumen
yang saya ungkapkan sebelumnya adalah hasil olah pikiran saya dengan landasan
pemikiran seorang pahlawan nasional yang berafiliasi dengan Komunis, Tan
Malaka. Juga berdasarkan review terhadap sejarah bagaimana bangsa muslim arab
dahulu dapat menguasai dunia intektual serta sejarah bagaimana Eropa bisa
keluar dari zaman gelapnya.
Tak ayal dari ketiga sejarah
tersebut. Irama dalam agenda perpindahan kelas social dari bottom to up adalah
pendidikan yang menanamkan pola pikir. Dari sini pula maka negara menaruh harap
agar putra-putri terbaiknya bisa menyebarkan pola pikir tersebut ke berbagai
lapisan masyarakat. Sehingga harapannya dialektika masyarakat Indonesia bisa
berubah seperti harapan-harapan yang diimpikan para pendiri bangsa.
Di ujung tulisan ini, mungkin hanya
ini esensi yang saya dapat tangkap dalam mengikuti sebuah pendidikan. Seperti
layaknya Epitaph, tulisan-tulisan ini akan tertulis di catatan saya sebagai
salah satu tanda perjalanan hidup saya sebagai seorang mahasiswa.
Saya bukanlah mahasiswa keren yang
menjadi aktivis dalam berbagai ormawa, atau mahasiswa yang pintar dengan meraih
beberapa penghargaan bergengsi, apalagi mahasiswa yang sering mengisi acara di
depan adik-adiknya dan juga saya bukan mahasiswa yang sering vokal melawan
pemerintah.
Saya hanyalah mahasiswa yang sering
ngopi dan ngrokok di warung kopi pojokan Keputih Surabaya.
Jika seorang mati maka diberikanlah
nisan pada makamnya. Maka ketika seorang mahasiswa telah usai masanya, maka
diberikanlah ijazah pada dirinya
Surabaya, 20 Maret
2019
TTD
Mahasiswa biasa saja


Komentar
Posting Komentar